Bagikan Yuk Artikelnya :
Seiring berkembangnya zaman, semangat pemuda saat ini dengan zaman dulu masih sama besarnya. Hanya saja, pemuda zaman dulu dan sekarang memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan semangat mereka. Tak sedikit pula pemuda yang telah meraih kesuksesan di usia yang masih muda.
Dan menciptakan hal-hal baru yang memudahkan dalam berkegiatan kini banyak dilakukan oleh para pemuda. Terlebih soal teknologi yang semakin berkembang dan memudahkan untuk kehidupan sehari-hari.
Perkembangan tekhnologi yang kian hari smakin pesat menjadi salah satu senjata pemuda Indonesia sekarang. Para pemuda memanfaatkan tekhnologi untuk menghadirkan inovasi di era disrupsi.
Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terus meningkat seiring kebutuhan manusia. Dengan berkembang dan majunya TIK pekerjaan dan masalah-masalah yang kita hadapi jadi lebih mudah diselesaikan, tetapi menurut saya, perkembangan dan penggunaan TIK dalam kehidupan sehari hari itu seperti peribahasa "api kecil jadi kawan, jika besar menjadi lawan". Karena jika perkembangan dan penggunaan TIK diterapkan secara tepat dan benar, maka akan menimbulkan dampak positif yang sangat berguna bagi manusia. Tetapi, jika penerapanya salah atau terlalu berlebihan, maka dapat menimbulkan dampak negatif.
Misalnya yang dilakukan oleh kelima pemuda berikut, mereka sukses berkecimpung di dunia digital dengan mendirikan perusahaan rintisan digital. Ada juga yang berinisiatif mengawal proses demokrasi di Indonesia secara urun daya di internet.
Siapakah sosok di balik dari kelima tersebut? simak terus selengkapnya di bawah ini.
1. Nadiem Makarim Pendiri Gojek
Meski lahir di Singapura dan bertahun-tahun mengenyam pendidikan di Amerika Serikat, Nadiem tidak melupakan tanah kelahirannya. Putra pengacara Nono Anwar Makarim ini bertekad merintis bisnisnya di Indonesia meski latar belakang Nadiem Makarim Mendirikan GoJek Lulus dari jurusan master bisnis Harvard University sempat mencoba berkarir di perusahaan konsultan McKinsey sebelum mendirikan Zalora Indonesia.
Di Zalora, Nadiem yang menjabat sebagai Managing Director belajar banyak hal dan bertekad mendirikan startup sendiri. Tahun 2010 saat masih bekerja di Zalora, ia mendirikan GoJek. Tahun 2013, ia keluar dari Zalora Indonesia dan pindah ke Kartuku, startup yang fokus di bidang pembayaran cashless. Lepas dari Kartuku tahun 2014, ia fokus mengembangkan GoJek hingga bisa menjadi salah satu startup terbesar di Indonesia. GoJek tak sekadar menjadi unicorn, ia juga menjadi startup decacorn pertama Indonesia dengan valuasi lebih dari 10 miliar dollar AS.
2. Wiliam Tanuwijaya, Pendiri CEO Tokopedia
Perjuangan pemuda asal Pematang Siantar ini tidak mulus. Saat kuliah di Universitas Bina Nusantara jurusan Teknik Informatika, William (37) harus banting tulang untuk menambah uang kuliah. Sebab, masa itu sang Ayah sedang jatuh sakit.
Ia pun bekerja sebagai penjaga warnet dengan durasi kerja 12 jam per hari. Setelah lulus kuliah tahun 2003, William sempat bercita-cita bekerja di Google meski akhirnya harus pupus. Ia akhirnya bekerja sebagai pengembang game di Bolehnet, menjadi IT & Business Development Manager di Indocom Mediatama dan pernah berkarir di TelkomSigma serta Sqiva Sistem.
Latar belakang dan pengalaman kerjanya di industri informatika membuatnya ingin mendirikan bisnis sendiri. Alhasil, ia mencoba mengajak temannya Leontinus Alpha Edison untuk mendirikan Tokopedia, startup marketplace yang menghubungkan penjual dan pembeli secara online.
3. Achmad Zaky, CEO Pendiri Buka Lapak
Achmad Zaky lahir di Sragen 24 Agustus 1986. Ilmu tentang tekhnologi sudah dikenalnya sejak kecil berkat sang paman. Tahun 1997, ia belajar bahasa pemrograman.Bakatnya di bidang tekhnologi juga menghantarkan Zaky menyabet gelar di Olimpiade Sains bidang komputer mewakili SMA 1 Solo. Lulus dari SMA, Zaky melanjutkan pendidikan di ITB jurusan Teknik Informatika.
4. Fery Unardi, CEO dan pendiri Traveloka
Satu lagi sosok pemuda pendiri startup lokal, Traveloka. Tak lain dan tak bukan ialah Fery Unardi. Pria asal Padang kalahiran 16 Januari 1988 ini mulai mendirikan startup pencarian dan pemesanan tiket online pada tahun 2012. Kala itu, Ferry baru berusia 23 tahun.
Ferry tidak sendiri, ia merintis startup ini bersama dua sahabatnya, Derianto Kusuma dan Albert Zhang. Ide awal mendirikan Traveloka muncul ketika Ferry kesulitan mencari tiket pulang ke Indonesia saat masih menempuh pendidikan S2 di jurusan Bisnis Harvard University.
Tapi, sebelum melanjutkan S2 bisnis di Harvard Ferry telah meraih gelar strata satu di Purdue University jurusan Ilmu dan Teknik Komputer, juga di Amerika Serikat. Setelah lulus, ia sempat berkarir di kantor pusat Microsoft di Seattle sebagai software engineer.
Lambat laun, trafik kunjungan ke Traveloka meningkat sehingga menarik perhatian maskapai.Traveloka pun meningkatkan layanannya, tak hanya menjadi situs pencarian dan pembanding, tapi juga berubah menjadi situs pemesanan tiket online. Lambat laun, trafik kunjungan ke Traveloka meningkat sehingga menarik perhatian maskapai.Traveloka pun meningkatkan layanannya, tak hanya menjadi situs pencarian dan pembanding, tapi juga berubah menjadi situs pemesanan tiket online.
5. Ainun Najib
Ainun Najib memang bukan pendiri startup beken seperti empat pemuda lain di daftar ini.Tapi ia juga berkontribusi dengan caranya sendiri. Pria yang lahir di Balongpanggang, Gresik 1985 ini dikenal sebagai penggagas situs KawalPemilu.org tahun 2014.Seperti namanya, KawalPemilu.org adalah situs untuk memantau penghitungan suara pada Pemilu Presiden ketika itu.
Mekanismenya urun daya, mengandalkan sukarelawan dari ribuan TPS di seluruh Indonesia yang mengumpulkan hasil scan formulir C1.
Bakat Ainun di bidang teknologi sudah terlihat sejak di bangku SMAN 5 Surabaya. Tahun 2003, ia menjadi salah satu anggota tim Olimpiade Matematika Asia Pasifik dan meraih honorable mention.Ainun lalu melanjutkan pendidikannya ke Universitas Teknologi Nanyang di Singapura jurusan Teknik Komputer.Semasa kuliah ia tetap rajin mengikuti lomba di bidang komputer level internasional mewakili kampusnya. Setelah lulus, Ainun bergabung dengan IBM Singapura sebagai pengembang software.Meski mengadu nasib di Singapura, hati Ainun tetap di Indonesia.
Penulis : Khoerul Anam
Edit: Agsas Laksan
Jika anda memiliki pertanyaan atau ingin berkomentar tentang artikel ini silahkan disini
Video Terkait