Bagikan Yuk Artikelnya :
Kita akan mencoba membahas Anggaran Kartu Prakerja yang nilainya sekitar 20 triliun yang mana 28% atau senilai 5,6 Trilliun digunakan untuk pelatihan online. Menurut saya anggaran ini terlalu wah. Kenapa saya bilang seperti itu karena saya adalah salah satu orang yang biasa belajar online baik tutorial dari youtube ataupun dari tutorial 'gratisan' di google. Kita bisa mendapatkan pelatihan apapun secara "gratis" di internet, nggak gratis juga sih karena harus modal kuota internet tapi jika dibandingkan dengan anggaran 5,6 T untuk dengerin ceramah para expert dan kita juga tetap harus punya kuota internet, jadi pas baca anggaran sebesar itu rasanya gimana gitu.
Sebelum lebih jauh membahas Anggaran 5,6 Trilliun ini sebaiknya dengarkan cerita saya dulu kenapa saya tertarik dengan masalah ini. Karena ini blog jadi saya akan sedikit bercerita. Walaupun sebenarnya blog ini tujuan awalnya bukan buat berita seperti ini tapi media yang saya punya ini untuk menyampaikan kritik saya kepada para pembuat kebijakan di negara ini jadi yuk simak curhatan saya ini.
Di rumah bekerja sebagai konsultan Mekanikal dan Elektrikal yang hampir 90% pekerjaannya Cuma ngutak ngatik AutoCad dan Sketchup (Aplikasi Menggambar) plus Ms. Excel untuk nyusun Anggaran beserta rumus-runus perhitungan desain ME. Pekerjaan ini benar-benar bisa membuat stres dan membosankan apalagi ditambah kondisi tidak bisa keluar selama berbulan-bulan karena pandemi Covid-19.
Selingan atau hiburan yang bisa dilakukan paling Cuma nonton youtube dan baca berita di google atau baca tutorial membuat website (baru paham sedikit html dan CSS aja :P, mau lihat hasilnya bisa buka caloninsinyure.com, website nya masih cupu karena Cuma baru pake html+css, belajar PHP muter-muter tanpa hasil). Tapi gara-gara si 'PHP' Inilah jadi nyasar kemana-mana sampai nemu berita 'Pelatihan Online Kartu Prakerja'.
Saat saya membaca berita Pelatihan Online Kartu Prakerja ini saya tertarik karena disana ada salah satu modul pelatihannya coding. Dipenjelasannya ada pelatihan PHP dan javascript beserta sekawanan web programming lainya.
Saya coba mengikuti cara daftar jadi anggota Kartu Prakerja, mulai mengisi biodata sampai isi testnya. Hasilnya gagal nggak tahu alasan kenapa gagal karena tidak ada penjelasan alasan gagalnya (atau mungkin saya tidak baca alasannya). Saya hanya menyimpulkan saya gagal karena saya ikut test itu saat gelombang pendaftaran sudah tutup (walaupun ada sedikit aneh, sudah tutup kenapa saya masih bisa daftar dan ikut test, harusnya jika sudah tutup gelombang pertama saya hanya bisa daftar dan ikut testnya gelombang kedua nanti. Mungkin ini bug dari developer websitenya).
Di gelombang kedua modul pelatihan coding sudah tidak ada lagi diganti dengan modul-modul yang lain. Karena penasaran saya mencoba mencari informasi detail tetang pelatihan ini. Saya mencari sampai ke perusahaan yang memberikan pelatihan modul coding. Dari hasil "research kecil-kecilan ala-ala" saya menemukan sedikit keanehan karena perusahaannya tidak familiar di google (mungkin karena saya type spesialis tutorial gratisan macam duniailkom.com, malasngoding.com, petanikode.com, niagahoster.co.id dan lain-lainnya, pokoknya website yang muncul di halaman pertama google). Tapi dicoding.com ini saya belum pernah baca tutorialnya di google ya mungkin karena harus berbayar. Saya mencoba terus mencari tentang dicoding dan saya coba tanya apakah bisa ikut pelatihan dengan biaya sendiri, saya tertarik dengan dicoding ini karena pemerintah aja kerjasama dengan perusahaan ini jadi pasti di pikiran saya pasti perusahaan ini terpercaya.
Sampai saya membuat artikel ini dan pencarian terkait dicoding pun berhenti saya tidak menemukan kesimpulan perusahaan dicoding ini dan saya kembali ke habitat Saya membaca tutorial 'gratisan' di google yang baik hati (google lebih baik hati ketimbang negara saya yang harus menyiapkan dana triliunan cuma supaya bisa ikut tutorial/pelatihan. Ini menurut saya loh ya...)
Ceritanya cukup sekian dulu. Nah sekarang ayo kita kupas lebih dalam lagi terkait anggaran yang wahnya minta ampun ini. Dan diakhir saya juga akan sedikit menyumbangkan ide buat para penghuni gedung hijau bagaimana caranya memberikan bantuan pelatihan tanpa harus mengeluarkan biaya triliunan. Yuk mari kita kupas lebih dalam.
Pertama-tama kita akan kupas 20 triliun untuk anggaran Kartu Prakerja yang awalnya anggaran untuk Kartu Pra kerja ini hanya 10 triliun. Anggaran naik karena jumlah yang bisa menerima anggaran ini juga naik jadi 5,6 juta orang. Jika kita hitung dengan cara orang awam seperti saya ini. Detail anggarannya seperti ini.
Satu orang penerima Kartu Prakerja akan menerima dana senilai 3,55 jt. Jika dikalikan 5,6 jt orang maka dananya sekitar 19,88 Trilliun. Jadi setiap pemegang kartu akan mendapatkan 3.550.000 per orang. Pertanyaannya apakah dana 3,55 jt ini bisa cair semua untuk masyarakat? Jawabannya tidak bisa (padahal menurut saya harusnya bisa, akan saya jelaskan caranya di solusi nanti).
Alasan pemerintah tidak bisa mencairkan semua dana Kartu Prakerja karena dana 1 juta harus dipakai untuk bayar kredit pelatihan (menurut saya bahasa lainnya 1 juta buat bayar sertifikat pelatihan yang sangat mahal dan tidak berguna karena orang butuh skill hasil pelatihannya bukan sertifikatnya bahkan sertifikat ini berkesan bancakan anggaran negara menurut saya. Saya akan jelaskan alasan saya ini nanti dibagian solusi).
Jadi alasan dana Kartu Prakerja tidak bisa cair karena rinciannya begini. Setiap peserta Kartu Prakerja (kedepannya saya akan sebut peserta saja). Peserta akan menerima dana sebesar Rp. 600.000 perbulan selama 4 kali sebagai insentif sudah mengikuti pelatihan. 600 rb x 4 = Rp. 2.400.000. Peserta juga harus memberikan survey komentar terkait pelatihan dan sebagian imbalannya akan diberi Rp. 50.000 sebanyak 3 kali (Rp. 50rb x 3 = Rp. 150.000). Sisanya dana itu hanya bisa dipakai untuk membayar sertifikat pelatihan senilai Rp. 1.000.000
Semoga paham tentang rincian dana yang bisa diterima oleh peserta Kartu Prakerja. Jika di ringkas seperti ini. BLT Rp. 2.400.000 + Bonus Rp. 150.000 = Total Rp. 2.550.000 (Dana bisa cair dan bisa dibelikan buat beli nasi + kerupuk selama 4 bulan kedepan selama masa pandemi covid-19), sementara satu juta buat beli sertifikat berlogo bantuan pemerintah dengan Label Sumbangan untuk para konglomerat Platform ide kreatif pemuda-pemudi milenial. Hebat kan peserta Kartu Prakerja tidak bekerja tapi kalian bisa menyumbang senilai Rp. 1.000.000.
Saat mendengar kalimat terakhir paragraf di atas mungkin terdengar menyakitkan dan menghina tapi mari kita baca alasannya di bagian solusi. Kenapa para milenial kaya raya ini malah menerima sumbangan bukannya memberi sumbangan untuk masyarakat yang kesulitan saat pandemi Covid-19 ini.
Solusi Cara Membantu Peserta Kartu Pra Kerja Ikut Pelatihan Tanpa Biaya
Anggaran 20 Triliun sudah bagus untuk membantu masyarakat, khususnya masyarakat yang sedang mencari pekerjaan apalagi saat pandemi Covid-19 ini pasti sangat membantu sekali. Tetapi cara yang digunakan pemerintah serasa kurang efektif malah terkesan menguntungkan beberapa pihak dan harus mengeluarkan anggaran yang kurang efektif terutama saat pandemi Covid-19 ini. Sehingga Perlu solusi yang lebih baik selain memberikan Dana untuk pelatihan yang nilainya tidak kecil. Pelasan solusi lebih lanjut silahkan klik
Jika anda memiliki pertanyaan atau ingin berkomentar tentang artikel ini silahkan disini
Video Terkait